ANAK MUDAH LELAH DAN PUCAT? KENALI GEJALA ANEMIA PADA ANAK DAN REMAJA SEJAK DINI
Oleh : dr. Rhama Patria Bharata, M. Med., Sc., Sp. A

Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang sering ditemukan di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, kejadian anemia pada remaja putri mencapai sekitar 32%, artinya sekitar 3–4 dari 10 remaja putri mengalami anemia. Sementara itu, secara umum angka anemia di berbagai kelompok usia juga tetap tinggi, termasuk pada anak di bawah usia lima tahun yang angka kejadiannya mencapai hampir 40%.
Anemia yang tidak ditangani dapat memengaruhi konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, bahkan pertumbuhan anak dalam jangka panjang. Penting bagi orang tua memahami apa itu anemia, mengenali gejalanya, mengetahui penyebabnya, serta memahami cara mengatasi dan mencegah anemia secara tepat.
APA ITU ANEMIA?
Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal. Hemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Oksigen sangat penting agar organ tubuh dapat bekerja dengan baik. Jika kadar hemoglobin rendah, tubuh kekurangan pasokan oksigen. Inilah yang menyebabkan anak tampak pucat, lemas, dan kurang bersemangat.
GEJALA ANEMIA PADA ANAK DAN REMAJA
Gejala anemia sering berkembang perlahan, sehingga orang tua perlu jeli memperhatikan perubahan pada anak. Berikut beberapa gejala anemia yang dapat terlihat:
- Telapak tangan dan bibir tampak pucat
- Mudah lelah dan kurang aktif
- Sering mengeluh pusing
- Sulit berkonsentrasi
- Jantung berdebar saat aktivitas ringan
- Pertumbuhan kurang optimal
- Mengalami pica (kebiasaan makan tanah, es, atau kertas)

PICA: KEBIASAAN MAKAN BENDA BUKAN MAKANAN YANG PERLU DIWASPADAI
Salah satu gejala anemia yang sering tidak disadari orang tua adalah pica, yaitu kebiasaan mengonsumsi benda yang bukan makanan dan tidak memiliki nilai gizi. Anak atau remaja dengan pica dapat memiliki keinginan kuat untuk makan tanah, es batu (pagophagia), kertas, kapur, bedak, bahkan cat tembok. Kebiasaan ini bukan sekadar “iseng” atau perilaku unik, melainkan bisa menjadi tanda adanya gangguan medis, terutama anemia defisiensi besi.
Pada anemia karena kekurangan zat besi, terjadi perubahan pada sistem saraf dan indera pengecap. Menariknya, pada banyak kasus, kebiasaan pica membaik atau menghilang setelah kadar hemoglobin dan cadangan zat besi kembali normal. Namun, pica tidak boleh dianggap remeh. Kebiasaan makan tanah dapat meningkatkan risiko infeksi cacing, paparan bakteri, bahkan keracunan logam berat.
Oleh karena itu, jika orang tua mendapati anak sering memasukkan benda bukan makanan ke dalam mulut secara berulang dan menetap, sebaiknya segera konsultasi ke dokter untuk pemeriksaan kadar hemoglobin dan status zat besi.
KAPAN SESEORANG DIKATAKAN ANEMIA?
Diagnosis anemia ditegakkan melalui pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar Hemoglobin (Hb). Pemeriksaan sebaiknya dilakukan saat kondisi anak sehat, bukan saat sedang infeksi akut, agar hasilnya lebih akurat.
Berikut kriteria anemia berdasarkan usia:
- Balita dan ibu hamil: Hb < 11 g/dL
- Usia 5–12 tahun: Hb < 11,5 g/dL
- Usia 12–14 tahun: Hb < 12 g/dL
- Perempuan >15 tahun: Hb < 12 g/dL
- Laki-laki >15 tahun: Hb < 13 g/dL
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan angka di bawah batas tersebut, maka diperlukan evaluasi penyebab anemia.

PENYEBAB ANEMIA PADA ANAK
Anemia bukanlah satu penyakit tunggal. Ada berbagai penyebab anemia yang perlu ditelusuri sebelum menentukan terapi.
1. ANEMIA DEFISIENSI BESI (PALING SERING)
Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia yang paling banyak ditemukan. Zat besi merupakan bahan utama pembentuk hemoglobin. Jika asupan zat besi kurang atau penyerapannya terganggu, kadar Hb akan menurun.
Faktor risiko anemia defisiensi besi:
- Jarang mengonsumsi daging, hati, atau telur
- Masa pertumbuhan cepat pada anak dan remaja
- Infeksi cacing
- Perdarahan kronis
- Gangguan penyerapan zat besi di usus
- Remaja putri lebih berisiko karena mengalami menstruasi setiap bulan.
2. ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS
Beberapa penyakit kronis dapat menyebabkan anemia, seperti tuberkulosis (TB), infeksi saluran kemih berulang, dan infeksi kronis lain yang tidak tertangani
3. ANEMIA HEMOLITIK
Terjadi ketika sel darah merah lebih cepat rusak atau pecah sebelum waktunya, misalnya akibat infeksi atau penyakit autoimun seperti penyakit lupus.
4. KELAINAN BENTUK ATAU ENZIM DARAH
Beberapa kasus seperti talasemia, anemia sel sabit, dan kelainan bentuk sel darah merah, menyebabkan sel darah merah mudah rusak dan pecah.
5. PERDARAHAN
Kehilangan darah dalam jumlah banyak, misalnya akibat menstruasi berat, perdarahan lambung, atau kecelakaan.
6. KELAINAN SUMSUM TULANG
Gangguan produksi sel darah seperti anemia aplastik, leukemia (kanker darah), atau sindrom mielodisplastik.
Karena penyebabnya beragam, konsultasi dengan dokter sangat penting agar terapi yang diberikan sesuai.
CARA MENGATASI ANEMIA DEFISIENSI BESI
Jika anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi, maka terapi utama adalah suplementasi zat besi.
1. Minum Zat Besi Secara Teratur: Suplemen zat besi diminum setiap hari minimal 3 bulan. Setelah kadar Hb normal, pengobatan tetap dilanjutkan selama 3 bulan tambahan untuk mengisi cadangan zat besi tubuh.
2. Konsumsi Vitamin Pendukung: Vitamin C membantu penyerapan zat besi. Asam folat juga berperan dalam pembentukan sel darah merah.
3. Transfusi Darah: Dilakukan jika kadar Hb sangat rendah dan kondisi anak sudah membahayakan.
PENCEGAHAN ANEMIA SEJAK DINI
Pencegahan anemia jauh lebih baik dibandingkan mengobati.
1. Suplemen Zat Besi 2 Kali Seminggu: Dapat diberikan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
2. Konsumsi Makanan Kaya Zat Besi: seperti daging sapi dan ayam, hati, ikan, telur, bayam, brokoli, kacang-kacangan
3. Makanan kaya Vitamin C: seperti yang ditemui pada jeruk, jambu, dan tomat.
4. Hindari Penghambat Penyerapan Zat Besi; Teh dan susu sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan makan utama. Beri jarak waktu dan berikan saat camilan.
5. Pencegahan pada Bayi: Bayi prematur atau berat lahir rendah: suplemen zat besi sejak lahir hingga usia 2 tahun, sedangkan pada bayi cukup bulan suplemen zat besi mulai usia 4 bulan hingga 2 tahun.
DAMPAK ANEMIA JIKA TIDAK DITANGANI
Anemia yang tidak diobati dapat menyebabkan:
- Gangguan konsentrasi belajar
- Penurunan daya tahan tubuh
- Gangguan tumbuh kembang
- Penurunan performa fisik
- Pada kasus berat, dapat membahayakan jiwa
Karena itu, deteksi dini sangat penting. Pemeriksaan sederhana kadar Hb dapat membantu memastikan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat.
KESIMPULAN
Anemia pada anak dan remaja adalah kondisi yang sering terjadi namun sering tidak disadari. Gejala anemia dapat berupa pucat, mudah lelah, dan gangguan konsentrasi. Anemia defisiensi besi merupakan penyebab paling umum dan dapat diatasi dengan suplemen zat besi serta pola makan yang tepat. Dengan deteksi dini dan pencegahan yang baik, anemia dapat dicegah sehingga anak dapat tumbuh sehat, aktif, dan optimal dalam belajar.

Tentang Penulis :
dr. Rhama Patria Bharata, M. Med. Sc., Sp.A
Dokter Spesialis Anak Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah
Pelayanan Kesehatan bayi, anak, dan remaja
