DEMAM DAN KEJANG PADA ANAK: KAPAN HARUS TENANG, KAPAN HARUS WASPADA?
Oleh : dr. Rhama Patria Bharata, M. Med., Sc., Sp. A

Ketika Anak Demam, Orang Tua Sering Kali Cemas
Demam adalah salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami anak-anak. Hampir semua orang tua pernah mengalami momen ketika anak tiba-tiba terasa panas, kemudian termometer menunjukkan angka yang cukup tinggi. Tidak jarang kondisi ini membuat orang tua langsung panik.
Banyak pertanyaan muncul di kepala: apakah demam ini berbahaya? Apakah anak membutuhkan antibiotik? Haruskah langsung dibawa ke rumah sakit? Kekhawatiran biasanya semakin besar jika demam disertai dengan kejang.
Padahal, dalam banyak kasus, demam sebenarnya merupakan reaksi normal tubuh dalam melawan infeksi. Tubuh anak meningkatkan suhu sebagai bagian dari mekanisme pertahanan terhadap kuman yang masuk. Namun demikian, orang tua tetap perlu mengetahui penyebab demam, cara penanganannya di rumah, serta tanda bahaya yang perlu diwaspadai, termasuk bagaimana bersikap jika anak mengalami kejang. Memahami hal-hal tersebut dapat membantu orang tua menghadapi demam pada anak dengan lebih tenang dan tepat.
Mengapa Anak Bisa Demam?
Demam terjadi ketika suhu tubuh meningkat di atas 37.5°C. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh respons sistem imun terhadap infeksi atau peradangan di dalam tubuh. Ketika kuman seperti virus atau bakteri masuk ke tubuh, sistem kekebalan akan mengaktifkan berbagai mekanisme untuk melawan infeksi tersebut. Salah satu mekanisme yang terjadi adalah peningkatan suhu tubuh.
Infeksi Virus: Penyebab Demam yang Paling Umum
Sebagian besar kasus demam pada anak disebabkan oleh infeksi virus. Demam akibat virus biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat mencapai suhu yang cukup tinggi. Meskipun terlihat mengkhawatirkan, demam akibat virus umumnya akan membaik dengan sendirinya dalam waktu kurang dari satu minggu, karena sistem kekebalan tubuh mampu melawan virus tersebut. Beberapa penyakit virus yang sering menyebabkan demam pada anak antara lain selesma (flu biasa), influenza, COVID-19, roseola, campak, demam berdarah.
Pada infeksi virus, antibiotik tidak diperlukan. Hal ini karena antibiotik hanya efektif untuk membunuh bakteri, bukan virus. Penggunaan antibiotik tanpa indikasi dapat menimbulkan berbagai efek samping seperti reaksi alergi, gangguan pencernaan, ddiare, bahkan resistensi antibiotic (kuman menjadi kebal obat) di masa depan. Oleh karena itu, tidak semua anak yang demam membutuhkan antibiotik, dan harus sesuai dengan anjuran dokter.
Infeksi Bakteri
Selain virus, demam juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri. Pada beberapa kasus, pola demam akibat bakteri sedikit berbeda dengan infeksi virus. Demam akibat bakteri sering kali meningkat secara bertahap, berlangsung lebih lama, dan tidak membaik tanpa pengobatan yang tepat. Jika dokter mencurigai adanya infeksi bakteri, anak mungkin akan memerlukan antibiotik sebagai bagian dari pengobatan.
Beberapa contoh penyakit bakteri yang sering menyebabkan demam pada anak antara lain infeksi saluran kemih (ISK), demam tifoid, pneumonia atau radang paru, disentri, dan radang amandel (tonsilofaringitis). Untuk memastikan penyebabnya, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan laboratorium.
Penyebab Demam yang Lebih Jarang
Dalam sebagian kecil kasus, demam dapat disebabkan oleh kondisi lain di luar infeksi. Contohnya Adalah penyakit autoimun, reaksi alergi berat, penyakit inflamasi kronis, dan beberapa jenis kanker. Namun penting diketahui bahwa penyebab-penyebab tersebut jauh lebih jarang dibandingkan infeksi virus atau bakteri.
Cara Merawat Anak Demam di Rumah
Ketika anak mengalami demam, perawatan di rumah sering kali sudah cukup untuk membantu anak merasa lebih nyaman. Tujuan utama penanganan di rumah adalah mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah dehidrasi. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
- Pastikan Anak Minum Cukup
Saat demam, tubuh anak kehilangan lebih banyak cairan. Oleh karena itu, anak perlu minum lebih sering. Tidak harus selalu air putih. Beberapa pilihan cairan yang bisa diberikan antara lain susu, jus buah, sup atau kuah hangat. Cairan membantu menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah dehidrasi.
- Kompres Hangat
Kompres dengan air hangat dapat membantu menurunkan suhu tubuh secara bertahap. Area yang biasanya digunakan untuk kompres adalah ketiak, leher, lipatan paha. Hindari menggunakan air es atau kompres dingin karena dapat membuat anak menggigil dan justru meningkatkan suhu tubuh.
- Gunakan Pakaian yang Nyaman
Saat demam, tubuh berusaha mengeluarkan panas. Karena itu sebaiknya anak mengenakan pakaian tipis dan nyaman agar panas tubuh lebih mudah dilepaskan. Pakaian yang terlalu tebal justru dapat membuat suhu tubuh semakin meningkat.
- Anak Tetap Boleh Mandi
Masih banyak orang tua yang ragu memandikan anak ketika demam. Padahal mandi dengan air hangat justru dapat membantu menurunkan suhu tubuh dan membuat anak merasa lebih segar.
- Gunakan Obat Penurun Demam Jika Diperlukan
Obat yang paling sering digunakan untuk menurunkan demam pada anak adalah paracetamol. Obat ini dapat diberikan sesuai dosis yang dianjurkan dokter, biasanya setiap 4–6 jam jika diperlukan. Penting diingat bahwa obat penurun demam tidak mengobati penyebab penyakit, tetapi membantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat demam.
Kapan Anak Perlu Pemeriksaan Laboratorium?
Sebagian orang tua ingin segera melakukan pemeriksaan darah ketika anak baru mengalami demam.
Padahal pada tiga hari pertama demam, hasil pemeriksaan darah sering kali masih terlihat normal meskipun anak sedang sakit.
Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium biasanya dianjurkan jika demam sudah berlangsung lebih dari 3–4 hari, atau demam tidak menunjukkan perbaikan dan terdapat gejala lain yang mengarah pada infeksi tertentu. Pemeriksaan darah dapat membantu dokter mengetahui apakah penyebab demam kemungkinan berasal dari virus, bakteri, atau penyakit lain.
Tanda Bahaya Demam pada Anak
Walaupun sebagian besar demam tidak berbahaya, orang tua tetap perlu mengenali kondisi yang membutuhkan penanganan medis segera. Segera bawa anak ke rumah sakit atau IGD jika muncul gejala berikut:
- suhu tubuh sangat tinggi (lebih dari 40°C)
- kejang
- sakit kepala hebat
- anak sangat mengantuk atau sulit dibangunkan
- muncul ruam, memar, atau mimisan
- anak tidak mau minum
- muntah terus-menerus
- tidak buang air kecil selama lebih dari 6 jam
- telapak tangan dan kaki terasa sangat dingin
- napas cepat atau sesak
Gejala-gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya penyakit yang lebih serius.
Kejang Demam pada Anak
Kejang demam adalah salah satu kondisi yang paling membuat orang tua ketakutan. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun ketika suhu tubuh meningkat dengan cepat. Saat kejang demam terjadi, anak dapat mengalami tanda berikut:
- gerakan tubuh tidak terkendali
- mata terbalik ke atas
- tubuh kaku atau tersentak-sentak
- tidak merespons panggilan
Meskipun terlihat menakutkan, sebagian besar kejang demam sebenarnya bersifat sementara dan tidak menyebabkan kerusakan otak. Kejang biasanya berlangsung singkat dan berhenti sendiri. Namun orang tua tetap perlu mengetahui cara penanganan yang tepat saat kejang terjadi.
Pertolongan Pertama Saat Anak Mengalami Kejang
Jika anak mengalami kejang, langkah pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
- Baringkan anak di tempat yang datar seperti lantai atau tempat tidur untuk mencegah cedera.
- Miringkan tubuh atau kepala anak. Posisi ini membantu mencegah muntahan masuk ke saluran napas.
- Longgarkan pakaian anak, karena pakaian yang longgar membantu anak bernapas lebih nyaman.
- Jangan memasukkan benda ke dalam mulut karena dapat menyebabkan luka atau tersedak.
- Jangan menahan gerakan kejang, karena gerakan kejang tidak dapat dihentikan dengan menahan tubuh anak.
- Jangan memberi makanan atau minuman karena anak tidak dapat menelan dengan baik saat kejang sehingga rentan tersedak.
- Jika memungkinkan, catat berapa lama kejang berlangsung atau rekam dengan video untuk membantu dokter mengevaluasi kondisi anak.
Setelah kejang berhenti dan anak mulai sadar, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi yang Sering Disalahartikan sebagai Kejang
Tidak semua gerakan tubuh saat demam merupakan kejang. Beberapa kondisi yang sering disalahartikan sebagai kejang antara lain:
- Menggigil saat demam. Tubuh menggigil karena suhu sedang meningkat.
- Tangisan yang disertai napas tersengal. Anak yang menangis keras kadang terlihat seperti sesak.
- Refleks Moro pada bayi. Pada bayi kecil, gerakan tangan tiba-tiba terbuka adalah refleks normal.
Perbedaan utama dengan kejang adalah anak masih sadar dan responsif, serta gerakan dapat berhenti ketika anak ditenangkan.
Agar Orang Tua Lebih Siap Menghadapi Demam Anak
Demam adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak dan hampir tidak dapat dihindari. Namun dengan pengetahuan yang cukup, orang tua dapat menghadapi kondisi ini dengan lebih percaya diri.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- selalu menyediakan termometer di rumah
- mengetahui dosis obat penurun demam yang tepat
- memastikan anak cukup minum saat demam
- mengenali tanda bahaya yang memerlukan bantuan medis
- memahami pertolongan pertama jika anak mengalami kejang
Jika demam berlangsung lama, tidak membaik, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan tenaga medis agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.
Pengetahuan dasar ini dapat membantu orang tua memberikan penanganan yang tepat ketika anak sakit.

Tentang Penulis :
dr. Rhama Patria Bharata, M. Med. Sc., Sp.A
Dokter Spesialis Anak Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah
Pelayanan Kesehatan bayi, anak, dan remaja
