ANAK MUDAH MARAH DAN SERING TANTRUM?
KENALI STRES DAN PENGARUH POLA ASUH PADA PERILAKU ANAK

Oleh : dr. Rhama Patria Bharata, M. Med., Sc., Sp. A
Anak kecil kok bisa stres?”
Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di benak banyak orang tua. Bukankah anak-anak hanya bermain, sekolah, dan menjalani hari-harinya bersama keluarga? Mengapa mereka bisa terlihat begitu tertekan, mudah marah, atau tiba-tiba berubah perilakunya? Faktanya, anak juga bisa mengalami stres. Mereka dapat merasa cemas, takut, kecewa, sedih, atau kewalahan menghadapi berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya. Bedanya, anak belum selalu mampu memahami apa yang sedang mereka rasakan, apalagi menjelaskannya kepada orang tua.
Perilaku anak sering kali merupakan bentuk komunikasi. Di balik tangisan, kemarahan, atau sikap yang tiba-tiba berubah, mungkin ada rasa takut, sedih, kecewa, bingung, atau tidak nyaman yang sedang berusaha disampaikan oleh anak.
Bagaimana Mengetahui Anak Sedang Mengalami Stres?
Anak tidak selalu bisa mengatakan bahwa dirinya sedang stres. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan yang terjadi dalam keseharian anak. Salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah perubahan emosinya. Anak mungkin menjadi lebih mudah menangis, gampang tersinggung, atau lebih sering mengalami tantrum. Tantrumnya juga bisa terasa lebih berat dibandingkan biasanya. Anak yang sebelumnya ceria mungkin terlihat lebih murung atau kehilangan minat untuk bermain. Sebagian anak menjadi lebih cemas dan sulit berpisah dari orang tua. Anak yang sebelumnya bisa ditinggal sekolah dengan tenang tiba-tiba menangis ketika orang tua pergi dan terus meminta untuk ditemani.
Perubahan juga dapat terlihat dari kebiasaan sehari-hari. Anak bisa mengalami kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, mengalami mimpi buruk, atau takut tidur sendirian. Nafsu makannya pun dapat berubah. Ada anak yang menjadi sulit makan, sementara yang lain justru lebih sering meminta makanan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku di sekolah. Anak yang sedang mengalami tekanan mungkin menjadi lebih sulit berkonsentrasi, prestasinya menurun, lebih banyak diam, menjauh dari teman, atau bahkan mulai menolak pergi ke sekolah. Jika perubahan tersebut muncul secara tiba-tiba dan menetap, orang tua perlu mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dalam kehidupan anak.
Anak Kembali Melakukan Hal yang Dulu Sudah Bisa Ditinggalkan
Pernah melihat anak yang sudah lama tidak mengompol tiba-tiba kembali mengompol? Atau anak yang sebelumnya sudah bisa makan sendiri kembali meminta disuapi? Kondisi seperti ini dapat terjadi ketika anak sedang menghadapi perubahan atau tekanan. Dalam dunia perkembangan anak, kondisi ini dikenal sebagai regresi, yaitu ketika anak kembali menunjukkan perilaku yang sebelumnya sudah berhasil dilewati. Misalnya, anak kembali mengisap jempol, berbicara seperti bayi, menjadi jauh lebih manja, atau ingin kembali tidur bersama orang tua.
Regresi tidak selalu berarti ada masalah serius. Pada situasi tertentu, hal ini bisa menjadi respons sementara ketika anak sedang berusaha menghadapi perubahan besar. Misalnya setelah pindah rumah, masuk sekolah baru, mengalami perubahan dalam keluarga, atau ketika memiliki adik. Namun, jika perilaku tersebut berlangsung lama, semakin berat, atau disertai perubahan lain, orang tua sebaiknya tidak mengabaikannya. Cobalah mencari tahu apa yang mungkin sedang membuat anak merasa tidak aman atau kewalahan.
Anak Sering Sakit Perut Padahal Tidak Ditemukan Penyakit?
Kadang-kadang, tekanan emosional pada anak dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik. Anak mungkin sering mengeluh sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, jantung berdebar, atau merasa mudah lelah. Tentu saja, setiap keluhan fisik tetap perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada masalah medis yang mendasarinya. Namun, jika anak sudah diperiksa dan tidak ditemukan penyebab medis yang jelas, sementara keluhan terus berulang terutama pada situasi tertentu, faktor emosional juga perlu dipertimbangkan.
Misalnya, anak selalu mengeluh sakit perut setiap kali akan berangkat sekolah. Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu melihat lebih jauh. Apakah anak sedang mengalami masalah dengan teman? Apakah ada bullying? Apakah anak merasa takut terhadap guru? Atau mungkin tuntutan sekolah terasa terlalu berat baginya? Dengan memahami konteksnya, orang tua dapat membantu menemukan sumber masalah yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Apa yang Bisa Membuat Anak Stres?
Setiap anak memiliki kemampuan beradaptasi yang berbeda. Hal yang menurut orang dewasa sederhana belum tentu terasa sederhana bagi anak. Masalah dalam keluarga merupakan salah satu hal yang dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Pertengkaran orang tua, kurangnya perhatian, kekerasan di rumah, atau pengasuh yang sering berganti dapat membuat anak merasa tidak aman. Anak mungkin tidak memahami masalah yang sedang terjadi, tetapi mereka dapat merasakan suasana rumah yang tegang. Bahkan ketika orang tua berusaha menyembunyikan konflik, perubahan suasana dan emosi orang dewasa sering kali tetap dapat dirasakan oleh anak.
Perubahan besar dalam kehidupan juga dapat menjadi sumber stres. Pindah rumah, pindah sekolah, kehilangan orang yang disayangi, atau memiliki adik baru merupakan pengalaman yang membutuhkan proses adaptasi. Bagi sebagian anak, kehadiran adik baru dapat menimbulkan rasa cemburu. Anak mungkin merasa perhatian orang tua yang sebelumnya hanya untuk dirinya kini harus terbagi. Karena belum mampu memahami perasaan tersebut, ia bisa menjadi lebih rewel, lebih manja, atau kembali melakukan perilaku seperti bayi.
Masalah dengan teman juga tidak boleh disepelekan. Anak yang mengalami bullying, dikucilkan, atau memiliki konflik dengan teman dapat menunjukkan perubahan perilaku yang cukup jelas. Sayangnya, tidak semua anak mau atau mampu menceritakan pengalaman tersebut kepada orang tua.
Tekanan akademik juga dapat menjadi sumber stres. Jadwal sekolah dan les yang terlalu padat, tugas yang menumpuk, rasa takut menghadapi ujian, atau tuntutan untuk selalu mendapatkan nilai tinggi dapat membuat anak merasa kewalahan. Orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah jadwal anak sudah sesuai dengan usianya? Apakah anak masih memiliki cukup waktu untuk bermain, beristirahat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga?
Penggunaan gadget juga perlu diperhatikan. Ketika waktu bermain gadget mulai menggantikan waktu tidur, bermain aktif, membaca, atau berinteraksi dengan keluarga, hal ini dapat memengaruhi keseimbangan kehidupan anak.
Tidak Semua Stres Itu Buruk
Mendengar kata stres, orang tua mungkin langsung berpikir bahwa semua stres harus dihindari. Padahal, tidak demikian. Dalam kehidupan sehari-hari, anak akan menghadapi berbagai pengalaman yang membuat mereka takut, gugup, atau tidak nyaman. Hari pertama masuk sekolah, misalnya, mungkin membuat anak menangis. Namun, pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar beradaptasi dan menjadi lebih mandiri.
Anak mungkin takut ketika akan menjalani imunisasi. Dengan didampingi orang tua, ia belajar bahwa rasa takut dapat dihadapi. Anak yang gugup ketika harus tampil di depan kelas juga sedang belajar menghadapi rasa cemas. Ketika berhasil melewatinya, rasa percaya dirinya dapat tumbuh. Begitu pula ketika anak mengikuti lomba atau pertandingan. Mereka belajar merasakan ketegangan, mengelola rasa gugup, dan menerima bahwa dalam sebuah kompetisi ada kalanya menang dan ada kalanya kalah.
Jadi, tujuan orang tua bukan membuat anak hidup tanpa stres sama sekali. Yang lebih penting adalah membantu anak belajar menghadapi tantangan dengan cara yang sehat, sambil memastikan mereka memiliki orang dewasa yang dapat menjadi tempat berlindung ketika merasa kesulitan.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Validasi Emosi
Ketika anak terlihat sedang mengalami tekanan, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mendekati anak dan mendengarkannya. Berikan kesempatan bagi anak untuk bercerita tanpa langsung menghakimi atau menyalahkan. Hindari respons seperti, “Ah, begitu saja kok menangis?” atau “Jangan cengeng!” Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak bisa terasa seperti penolakan terhadap emosinya. Cobalah mengatakan, “Ayah tahu kamu sedang sedih,” atau “Tidak apa-apa kalau kamu merasa takut.” Memahami perasaan anak bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Anak tetap membutuhkan aturan dan batasan. Namun, sebelum mengajarkan bagaimana berperilaku dengan benar, anak perlu merasa bahwa dirinya aman dan emosinya dapat diterima.
Quality Time
Orang tua juga perlu menyediakan waktu khusus untuk anak. Tidak harus berjam-jam. Waktu 15–20 menit setiap hari tanpa gangguan gadget dapat menjadi kesempatan berharga untuk membangun hubungan yang lebih dekat. Gunakan waktu tersebut untuk membaca buku, bermain, menggambar, berjalan-jalan, makan bersama, atau sekadar mengobrol sebelum tidur.
Memenuhi Kebutuhan Dasar
Kebutuhan dasar anak juga tidak boleh dilupakan. Anak yang kurang tidur, lapar, terlalu lelah, atau jarang bergerak akan lebih mudah mengalami perubahan emosi. Pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup, makanan bergizi, aktivitas fisik, waktu bermain, dan interaksi sosial yang memadai.
Mengurangi Sumber Stres
Jika sumber stres sudah diketahui, cobalah menguranginya. Jadwal les yang terlalu padat dapat dievaluasi. Anak yang akan pindah sekolah dapat dipersiapkan sebelumnya. Jika keluarga baru saja memiliki bayi, luangkan waktu khusus untuk kakak agar ia tetap merasa dicintai dan diperhatikan. Jika masalah berkaitan dengan sekolah, orang tua dapat berkomunikasi dengan guru. Bila perubahan perilaku menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan Dokter Anak atau psikolog dapat membantu mencari penyebab dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Ketika Anak Tantrum, Apa yang Harus Dilakukan?
Tantrum merupakan hal yang cukup umum pada anak, terutama usia balita. Ketika anak sedang tantrum, bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi dan perilaku masih berkembang. Anak juga belum selalu mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Karena itu, ketika anak kecewa, lelah, lapar, mengantuk, atau terlalu banyak menerima stimulasi, emosinya dapat meledak dalam bentuk tangisan atau amukan.
Ketika tantrum terjadi, orang tua perlu berusaha tetap tenang. Pastikan lingkungan di sekitar anak aman. Singkirkan benda tajam, benda pecah belah, atau benda keras yang dapat melukai. Jangan memberikan apa yang diinginkan anak hanya karena ingin tantrumnya segera berhenti. Jika setiap kali mengamuk anak mendapatkan apa yang diminta, anak dapat belajar bahwa tantrum adalah cara yang efektif untuk mendapatkan keinginannya.
Tunggu hingga anak lebih tenang. Setelah itu, orang tua dapat membantu anak memahami emosinya.
“Masih marah karena waktu bermain sudah selesai, ya?”
“Kamu kecewa karena mainannya harus disimpan?”
Setelah anak tenang, ajarkan cara meminta sesuatu dengan lebih baik. Ketika anak berhasil mengendalikan emosinya, berikan apresiasi.
“Hebat, tadi kamu bisa tenang dan menyampaikan keinginanmu dengan baik.”
Dengan cara ini, anak perlahan belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi ada cara yang lebih baik untuk mengekspresikannya.
Gadget dan Perilaku Anak
Gadget tidak selalu buruk. Teknologi dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat dan sesuai usia. Masalah dapat muncul ketika penggunaan layar mulai mengambil alih waktu tidur, aktivitas fisik, bermain, membaca, dan interaksi langsung dengan orang lain. Anak yang terlalu sering bermain gadget dapat menjadi lebih mudah marah ketika gadget diambil. Mereka juga bisa menjadi lebih sulit menunggu, mudah bosan, sulit berkonsentrasi pada kegiatan tanpa layar, atau lebih memilih gadget daripada bermain bersama teman. Penggunaan gadget hingga larut malam juga dapat mengganggu tidur. Ketika anak kurang tidur, kemampuan mengendalikan emosi dapat ikut terganggu sehingga anak menjadi lebih mudah rewel dan marah pada hari berikutnya.
Orang tua juga perlu memperhatikan bukan hanya berapa lama anak menggunakan gadget, tetapi juga apa yang mereka tonton. Konten yang mengandung kekerasan, pornografi, atau tidak sesuai usia harus dihindari. Konten yang terlalu cepat dan sangat menstimulasi juga sebaiknya dibatasi. Pada anak usia dini, penggunaan layar sebaiknya dilakukan secara terbatas dan didampingi orang tua. Akan lebih baik jika orang tua sesekali mengajak anak bercerita tentang apa yang baru saja ditonton.
Bagaimana Agar Anak Tidak Terlalu Bergantung pada Gadget?
Mengurangi penggunaan gadget memang tidak selalu mudah. Karena itu, orang tua perlu membuat aturan yang jelas dan konsisten. Misalnya, gadget baru boleh digunakan setelah kegiatan utama selesai dan waktunya dibatasi dengan timer. Anak juga perlu memiliki kegiatan lain yang menarik, seperti membaca buku, menggambar, bermain peran, bermain di luar rumah, atau melakukan aktivitas bersama orang tua.
Yang tidak kalah penting, orang tua perlu memberikan contoh. Anak belajar dengan meniru. Jika orang tua terus-menerus memegang HP di depan anak, anak akan menganggap bahwa bermain gadget sepanjang waktu adalah sesuatu yang normal. Keluarga dapat membuat area bebas gadget, misalnya meja makan dan kamar tidur.
Gadget juga sebaiknya tidak selalu dijadikan “obat” untuk anak yang sedang bosan atau menangis. Kalimat seperti, “Nih HP supaya kamu tidak menangis,” jika terlalu sering digunakan dapat membuat anak belajar bahwa gadget adalah cara utama untuk mengatasi rasa bosan atau emosi yang tidak menyenangkan.
Pola Asuh dan Perilaku Anak
Selain stres dan penggunaan gadget, pola asuh juga dapat memengaruhi cara anak belajar mengatur emosi dan berperilaku.

Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter biasanya ditandai dengan aturan yang sangat ketat dan tuntutan agar anak selalu patuh. Hukuman lebih sering digunakan dibandingkan pujian, sementara kebutuhan emosional anak kurang mendapatkan perhatian.
Anak mungkin terlihat patuh dan disiplin dalam jangka pendek. Namun, jika diterapkan secara berlebihan, pola ini dapat membuat anak menjadi takut mencoba, kurang percaya diri, atau memilih berbohong agar tidak mendapatkan hukuman.
Pola Asih Demokratis
Berbeda dengan pola asuh demokratis yang berusaha menggabungkan kehangatan dengan batasan yang jelas. Orang tua tetap memiliki aturan, tetapi bersedia mendengarkan anak dan menjelaskan alasan di balik aturan tersebut.
Konsekuensi tetap diberikan jika anak melanggar aturan, tetapi konsekuensinya dibuat masuk akal dan diterapkan secara konsisten.
Pola Asuh Permisif
Pada pola asuh permisif, orang tua biasanya sangat hangat dan penuh kasih sayang, tetapi memberikan terlalu sedikit batasan. Anak dapat menjadi kesulitan menerima penolakan atau aturan karena terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan.
Pengabaian
Sementara itu, pola asuh pengabaian terjadi ketika orang tua sangat sedikit terlibat dalam kehidupan anak. Anak kurang mendapatkan perhatian sekaligus kurang mendapatkan batasan yang jelas.
Tentu saja, tidak ada orang tua yang sempurna. Dalam kehidupan nyata, kita semua bisa saja sesekali menjadi terlalu keras, terlalu longgar, atau kehilangan kesabaran. Penting bagi kita untuk terus melakukan evaluasi dan berusaha membangun hubungan yang hangat dengan anak, sambil tetap memberikan batasan yang jelas.
Kesimpulan
Anak Membutuhkan Orang Tua yang Konsisten
Anak membutuhkan aturan yang jelas dan dapat diprediksi. Masalah dapat muncul ketika ayah melarang sesuatu tetapi ibu membolehkan. Atau ketika orang tua melarang, tetapi kakek dan nenek justru mengizinkan. Anak juga akan bingung jika sesuatu yang hari ini diperbolehkan tiba-tiba dilarang besok hanya karena suasana hati orang tua sedang berbeda.
Oleh karena itu, orang tua sebaiknya membuat kesepakatan bersama mengenai aturan di rumah. Anggota keluarga lain yang sering berinteraksi dengan anak juga perlu memahami aturan tersebut.
Pola asuh demokratis bukan berarti anak boleh melakukan apa saja. Anak tetap membutuhkan batasan. Bedanya, batasan diberikan dengan cara yang hangat, jelas, konsisten, dan disertai konsekuensi yang logis.
Jika anak menumpahkan air, ajak anak membantu mengelapnya.
Jika anak mencoret tembok, ajak anak ikut membersihkannya.
Jika anak melempar mainan, mainan dapat disimpan untuk sementara.
Dengan cara seperti ini, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Anak tidak hanya takut pada hukuman, tetapi belajar memahami tanggung jawab atas perilakunya.

Tentang Penulis :
dr. Rhama Patria Bharata, M. Med. Sc., Sp.A
Dokter Spesialis Anak Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah
Pelayanan Kesehatan bayi, anak, dan remaja
