OBESITAS PADA ANAK DAN REMAJA :
AWAL BERBAGAI PENYAKIT YANG BISA DICEGAH
Oleh : dr. Rhama Patria Bharata, M. Med., Sc., Sp. A

“Nanti Juga Kurus Sendiri…” Benarkah?
Seorang anak berusia empat tahun datang ke poliklinik bersama kedua orang tuanya. Berat badannya jauh di atas rata-rata usianya. Saat ditanya apa yang menjadi kekhawatiran mereka, sang ibu tersenyum dan menjawab, “Dok, anak saya memang doyan makan. Tapi tidak apa-apa, kan? Ayahnya juga dulu gemuk waktu kecil, sekarang kurus sendiri.”
Cerita seperti ini sangat sering ditemui di praktik dokter anak. Sayangnya, anggapan bahwa semua anak gemuk akan otomatis menjadi kurus ketika besar adalah mitos yang tidak selalu benar. Justru banyak penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami obesitas memiliki kemungkinan besar tetap mengalami obesitas saat remaja hingga dewasa. Semakin lama berat badan berlebih dibiarkan, semakin besar pula risiko munculnya penyakit seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, gangguan hati, bahkan penyakit jantung pada usia yang lebih muda.
Apa yang Dimaksud dengan Obesitas pada Anak?
Setiap anak memang memiliki bentuk tubuh yang berbeda. Ada yang kurus, ada yang berisi, dan semuanya bisa saja normal. Namun, obesitas berbeda dengan sekadar tubuh yang berisi. Obesitas terjadi ketika tubuh menyimpan lemak dalam jumlah berlebihan sehingga mulai memengaruhi kesehatan.
Dokter tidak menentukan obesitas hanya dengan melihat penampilan anak. Penilaian dilakukan menggunakan kurva pertumbuhan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yang disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin pertumbuhan di dokter anak sangat penting.
Mengapa Anak Sekarang Lebih Mudah Mengalami Obesitas?
Jika dibandingkan dengan dua puluh tahun yang lalu, gaya hidup anak-anak telah berubah sangat drastis. Dulu, sepulang sekolah anak biasanya bermain sepeda, berlari di halaman, bermain petak umpet, atau sepak bola bersama teman-temannya. Sekarang, banyak waktu luang dihabiskan di depan layar. Bermain game, menonton video pendek, media sosial, atau serial favorit sering kali membuat anak duduk selama berjam-jam tanpa banyak bergerak.
Di sisi lain, makanan tinggi kalori kini tersedia di mana-mana. Camilan kemasan, minuman kekinian, makanan cepat saji, biskuit, cokelat, hingga susu manis dapat diperoleh dengan sangat mudah. Rasanya enak, harganya terjangkau, dan sering kali menjadi hadiah ketika anak berperilaku baik. Ketika kalori yang masuk terus bertambah sementara aktivitas fisik semakin berkurang, tubuh akan menyimpan kelebihan energi tersebut dalam bentuk lemak. Lama-kelamaan berat badan terus meningkat.
Penyebab Obesitas Anak
Asupan kalori yang berlebihan memang menjadi penyebab paling sering. Kebiasaan ngemil sepanjang hari, sering mengonsumsi makanan ultra-proses, minuman manis, es teh kemasan, boba, atau susu dengan gula tambahan dapat membuat kebutuhan kalori harian terlampaui tanpa disadari. Masalah berikutnya adalah pola makan yang tidak teratur. Ada anak yang melewatkan sarapan, kemudian makan dalam porsi sangat besar pada siang atau malam hari. Ada pula yang terbiasa makan sambil bermain gawai sehingga tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya sudah kenyang.
Kurangnya aktivitas fisik juga memberikan kontribusi besar. Tubuh manusia memang dirancang untuk bergerak. Ketika sebagian besar waktu dihabiskan dengan duduk atau berbaring, pembakaran energi menjadi jauh lebih sedikit. Selain gaya hidup, faktor keturunan juga berperan. Anak yang berasal dari keluarga dengan riwayat obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang sama. Namun, gen bukanlah takdir. Pola hidup sehat tetap mampu menurunkan risiko tersebut secara signifikan.
Faktor psikologis juga sering kali luput dari perhatian. Sebagian anak makan ketika sedang sedih, kecewa, bosan, atau cemas. Makanan menjadi cara untuk menenangkan emosi. Pada anak dengan ADHD yang memiliki sifat hiperaktif dan impulsif, kontrol terhadap keinginan makan juga dapat menjadi lebih sulit.
Ada pula penyebab yang berasal dari pengobatan. Kortikosteroid yang digunakan dalam jangka panjang atau obat seperti risperidone memang diketahui dapat meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan kenaikan berat badan. Walaupun lebih jarang, dokter juga harus mempertimbangkan adanya penyakit tertentu seperti hipotiroidisme, sindrom Cushing, kekurangan hormon pertumbuhan, sindrom Prader-Willi, tumor otak, atau PMOS pada remaja putri.
Mengapa Obesitas Harus Segera Diatasi?
Salah satu alasan utama adalah karena tubuh anak masih berkembang. Semakin dini obesitas terjadi, semakin lama tubuh terpapar kelebihan lemak. Hal ini meningkatkan kemungkinan munculnya berbagai gangguan metabolik bahkan sebelum anak memasuki usia dewasa. Tekanan darah mulai meningkat. Kolesterol mulai tidak normal. Lemak mulai menumpuk di hati. Kadar gula darah mulai naik.
Yang mengkhawatirkan, sebagian besar perubahan tersebut tidak menimbulkan keluhan pada awalnya. Anak tampak sehat, tetap aktif bermain, sehingga keluarga mengira semuanya baik-baik saja.
Padahal proses kerusakan sudah mulai berjalan perlahan.
Early Adiposity Rebound, Mengapa Gemuk Sejak Balita Perlu Diwaspadai?
Ada satu istilah yang mungkin masih asing bagi banyak orang tua, yaitu early adiposity rebound. Secara normal, indeks massa tubuh anak akan menurun setelah usia bayi, kemudian mencapai titik terendah sekitar usia lima hingga enam tahun sebelum perlahan meningkat kembali. Apabila kenaikan tersebut terjadi lebih awal, terutama sebelum usia lima tahun, risiko obesitas jangka panjang menjadi jauh lebih tinggi.
Pada periode tersebut jumlah sel lemak bertambah lebih cepat. Selain itu mulai terjadi resistensi terhadap hormon leptin, yaitu hormon yang berfungsi memberi sinyal kenyang kepada otak. Akibatnya anak menjadi lebih mudah lapar, lebih sulit merasa kenyang, dan cenderung makan lebih banyak. Semakin lama kondisi ini berlangsung, semakin sulit pula mengendalikan berat badan ketika anak memasuki usia remaja. Karena itulah dokter anak sering menekankan bahwa pencegahan obesitas sebaiknya dimulai sejak usia dini, bahkan sejak balita.
Tanda-Tanda Bahwa Obesitas Sudah Mulai Menimbulkan Masalah
Ada beberapa tanda yang patut diwaspadai. Kulit bagian belakang leher yang tampak menghitam dan menebal atau acanthosis nigricans sering kali menjadi petunjuk adanya resistensi insulin. Munculnya garis-garis pada kulit atau striae, lingkar perut yang semakin besar, tekanan darah mulai meningkat, serta pembesaran payudara pada remaja laki-laki juga memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan darah untuk melihat kadar gula darah puasa, trigliserida, kolesterol HDL, dan fungsi hati. Apabila beberapa kelainan tersebut muncul bersamaan, anak mungkin sudah mengalami sindrom metabolik, yaitu kondisi yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular di masa depan.
Apakah Anak Perlu Diet?
Kata “diet” sering kali menimbulkan kesan bahwa anak harus makan sangat sedikit. Padahal bukan itu tujuannya. Pada anak yang masih bertambah tinggi, target utama biasanya bukan menurunkan berat badan secara drastis, melainkan mempertahankan berat badan agar pertumbuhan tinggi badan dapat mengejar. Dengan cara ini, indeks massa tubuh akan membaik secara bertahap. Pada remaja, penurunan sekitar setengah kilogram setiap minggu umumnya dianggap aman apabila dilakukan melalui perubahan gaya hidup.
Tips perubahan gaya hidup pada anak dengan obesitas Adalah sebagai berikut:
- Perbanyak sayuran, buah utuh, lauk berprotein, dan makanan rumahan.
- Kurangi makanan ultra-proses, camilan tinggi gula, serta minuman manis.
- Biasakan makan tiga kali sehari secara teratur dan hindari kebiasaan makan sambil bermain gawai.
- Air putih sebaiknya menjadi minuman utama sehari-hari.
- Bergerak Lebih Banyak, Duduk Lebih Sedikit. Anak bisa bermain bola, berenang, bersepeda, jalan cepat, bermain kejar-kejaran, atau sekadar bermain aktif di halaman rumah. Aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat selama minimal 60 menit setiap hari.
- Sebaliknya, waktu layar sebaiknya dibatasi agar tidak menggantikan waktu bergerak.
- Perubahan Harus Dimulai dari Rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan anak sebagai satu-satunya orang yang harus berubah. Padahal lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.
- Biasakan makan bersama di meja makan beberapa kali setiap minggu, tidur cukup selama delapan hingga sepuluh jam setiap malam, dan jadikan aktivitas fisik sebagai kegiatan keluarga, bukan hukuman untuk anak.
Kesimpulan
Jangan Jadikan Berat Badan Sebagai Bahan Candaan
Banyak anak dengan obesitas datang bukan karena penyakit fisiknya, melainkan karena kehilangan rasa percaya diri. Mereka diejek teman di sekolah, tidak mau ikut olahraga, malu difoto, enggan bermain dengan teman sebaya. Komentar sederhana seperti “kok tambah gendut?” ternyata bisa meninggalkan luka yang sangat dalam. Alih-alih memarahi atau mempermalukan anak, berikan dukungan dan apresiasi terhadap setiap perubahan kecil yang berhasil dilakukan. Anak yang merasa diterima biasanya jauh lebih mudah menjalani perubahan gaya hidup dibandingkan anak yang terus-menerus dikritik.

Tentang Penulis :
dr. Rhama Patria Bharata, M. Med. Sc., Sp.A
Dokter Spesialis Anak Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah
Pelayanan Kesehatan bayi, anak, dan remaja

1 comment
https://shorturl.fm/p866c